Pelatihan Keluarga Sehat Bagi Petugas Puskesmas Angkatan I

Pelatihan Keluarga Sehat Bagi Petugas Puskesmas Angkatan I Kab. Batanghari di Bapelkes Jambi pada 10 s/d 14 April 2017

Pembinaan dan Penyuluhan PHBS Sekolah

pembinaan dan penyuluhan bagi warga SDN 123 Desa Selat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Orientasi Terpadu Kesling Kab. Batanghari 2017

Orientasi Terpadu kesling kab. Batanghari diselenggarakan di Muara Bulian pada 4-7 April 2017

Lomba Dokter Kecil Puskesmas Selat

Foto Bersama Juara I, II dan III Dokter Kecil Puskesmas Selat

Media promosi kesehatan

Poster-poster yang diletakkan di ruang tunggu polindes yang sangat berguna sebagai media promosi kesehatan

Saturday, May 20, 2017

Inspeksi Kesehatan Lingkungan dan Penyuluhan/ Pembinaan Rumah Sehat pada Keluarga


Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini Dari sisi epidemiologis, telah terjadi pula transisi yang cukup cepat terhadap beberapa penyakit menular, seperti  penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu Burung, Leptospirosis. Demikian pula dengan penyakit demam berdarah, keracunan makanan dan diare yang mulai mewabah kembali di beberapa daerah di Tanah Air dan bahkan sampai menyebabkan kematian.

Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan (Data Susenas 2001)

Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat dari semakin besarnya tekanan bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan cakupan air bersih dan jamban keluarga yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur cacing dan bahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat kesehatan, vektor penyakit yang tidak terkendali (nyamuk, lalat, kecoa, ginjal, tikus dan lain-lain), pemaparan akibat kerja (penggunaan pestisida di bidang pertanian, industri kecil dan sektor informal lainnya), bencana alam, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung ke arah pola hidup bersih dan sehat.

Para ahli kesehatan masyarakat sangat sepakat dengan kesimpulan Bloom yang mengatakan bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat kesehatan seseorang berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan faktor yang lain. Bahkan, lebih jauh menurut hasil penelitian para ahli, ada korelasi yang sangat bermakna antara kualitas kesehatan lingkungan dengan kejadian penyakit menular maupun penurunan produktivitas kerja. Pendapat ini menunjukkan bahwa demikian pentingnya peranan kesehatan lingkungan bagi manusia atau kualitas sumber daya manusia.

Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai derajat  kesehatan  yang  optimum. Untuk  memperoleh  rumah  yang sehat  ditentukan  oleh  tersedianya  sarana  sanitasi  perumahan. Sanitasi  rumah  adalah  usaha  kesehatan  masyarakat  yang menitikberatkan  pada  pengawasan  terhadap  struktur  fisik  dimana orang  menggunakannya  untuk  tempat  tinggal  berlindung  yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Rumah juga merupakan salah satu bangunan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria kenyamanan, keamanan dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar dapat bekerja dengan produktif.


Sebagai upaya untuk mencapai derajat kesehatan lingkungan yang optimum di wilayah kerja Puskesmas Selat, maka diadakanlah kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan Pembinaan Rumah Sehat di wilayah kerja Puskesmas Selat yang melingkupi 8 Desa. Kegiatan dilaksanakan setiap bulan dan menggunakan instrumen form Inspeksi Kesehatan Lingkungan Rumah sehat. Kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan Rumah Sehat bukan hanya untuk menilai apakah rumah tersebut memenuhi syarat kesehatan atau tidak, tetapi lebih dari itu kegiatan ini juga merupakan ajang silaturahmi dalam upaya Promotif dan Preventif dan deteksi dini kesehatan lingkungan di desa di wilayah kerja Puskesmas Selat.

Kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan pada salah satu rumah di Desa Pulau Betung RT. 03





Pemeriksaan Kualitas Air ( warna, bau dan rasa ).





Kondisi Jamban Sehat Semi Permanen.




Masalah utama rumah panggung di daerah pinggiran sungai adalah kondisi SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah) rumah tangga yang tidak memenuhi syarat kesehatan.


Sunday, May 7, 2017

Jambore Kader Posyandu Angkatan II Kabupaten Batanghari

Penyampaian Materi dari berbagai Narasumber :




Kata sambutan dan pembukaan acara oleh Ibu Elfi Yenni :


Penyampaian Materi dari berbagai Narasumber :









Lomba Cerdas Cermat bagi Kader Posyandu antar Kecamatan :









Lomba Cuci Tangan :



Foto Bersama Kader Posyandu Kec. Pemayung & Ibu Camat Kec. Pemayung & Panitia acara :




Sunday, April 23, 2017

Kenali Gejala TBC pada Anak


Anak yang tengah dalam masa pertumbuhan bisa saja mengalami hambatan, karena sering sakit-sakitan.Pertumbuhan yang terhambat bisa menyebabkan stanting. Salah satu penyebab anak sering sakit yaitu karena penyakit infeksi. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang bisa menyerang anak. Apalagi penyakit ini di Indonesia masih merupakan penyakit endemis karen sayangnya, tuberkulosis sering diidentikkan dengan kekurangan gizi, mereka yang tinggal di daerah kumuh, atau kemiskinan.
Penyakit ini bukan hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi dapat juga terjadi pada anak-anak. Alhasil banyak yang merasa gengsi atau malu ketika seseorang mengalami penyakit ini. Tidak hanya orang dewasa yang perlu mewaspadai TBC. Terlebih khusus anak-anak harus mewaspadai penyakit ini. Penyakit ini bisa timbul oleh anak yang mengisap udara yang mengadung kuman TBC. Beberapa gejala awalnya adalah si kecil gampang jatuh sakit, batuk terus-terusan, atau berat badan turun tanpa sebab.
Berbeda dengan TBC pada orang dewasa, TBC pada anak tidak menular. TBC pada anak, kuman berkembang biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman ada di dalam kelenjar, tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa, kuman berada di paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas. Sehingga pada saat batuk, percikan ludahnya akan mengandung kuman. Kuman inilah yang biasanya terhisap oleh anak-anak, lalu masuk ke paru-paru. Hal inilah yang membuat semakin banyak anak-anak yang terinfeksi dengan TBC.
Sementara itu masalah kurang gizi pada anak menjadi salah faktor yang sangat penting akan terjadinya penularan TBC yang meningkat pada anak-anak. Penyakit kurang gizi bahkan gizi buruk tidak hanya diderita anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. “Mereka yang mampu juga bisa terkena penyakit ini. Penyebab kurang gizi tidak sebatas kemiskinan. “Bisa juga karena problem pencernaan yang tidak dapat menyerap asupan gizi secara baik,”. Balita penderita kurang gizi biasanya disertai penyakit penyerta seperti tuberculosis (TBC) dan bronkhitis. Hal ini tentu tidak terlepas dari peranan orang tua dimana sering kali terjadinya kurang gizi pada anak adalah keengganan orang tua untuk membawa balitanya ke posyandu untuk diperiksa perkembangan kesehatannya.
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1999, jumlah kasus TB baru di Indonesia adalah 583.000 orang per tahun dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang per tahun. WHO memperkirakan bahwa TB merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan menyebabkan kematian pada anak dan orang dewasa. Jumlah seluruh kasus TB anak dari tujuh Rumah sakit (RS) Pusat pendidikan d Indonesia adalah 5 tahun (1998-2002) adalah1086 penyandang TB dengan angka kematian yang bervariasi dari 0%-14,1%. Kelompok usia terbanyak adalah 12-60 bulan (42,9%), sedangkan untuk bayi <12 bulan didapatkan 16,5%.
Sumber: Kompasiana dan Dr. Darryl Virgiawan Tanod


Dari 12 Menjadi 17, Inilah Indikator Keluarga Sehat Versi Pontianak


Dinas Kesehatan Kota Pontianak, mengumpulkan para tokoh masyarakat dan kader posyandu untuk pertemuan dengan Sekjend Kemenkes RI dalam rangka sosialisasi mengenai Implementasi Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga.
Kepala Dinkes, Sidiq Handanu, menyebutkan perlunya diundang masyarakat tersebut karena memang ini strategi yang dilakukan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan keluarga.
“Ini berkaitan dengan suatu pendekatan dalam membangun kesehatan keluarga di Indonesia termasuk Pontianak. Ini merupakan pendekatan baru dalam membangun kesehatn masyarakat yaitu dengan pendekatan keluarga,” ucap Handanu, Senin (3/4/2017).
Dijelaskan Handanu, dengan adanya pendekatan keluarga tersebut, Itu artinya setiap keluarga akan di identifikasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi derajat kesehatannya.
“Itu ada 12 indikator keluarga sehat kalau ditingkat nasional. Namun untuk di Pontianak kita tambahkan menjadi 17. Kita tambahkan lima indikator lokal, terutama yang masih menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Kadiskes tersebut menambahkan dalam menjalankan ini juga bersama-sama guna memberikan tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dijelaskan, penyelenggaraan program Idonesia sehat dilakukan dengan pendekatan keluarga dan ditetapkan 12 indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Indikator-indikator sebagai penanda status kesehatan keluarga tersebut adalah pertama, keluarga mengikuti program keluarga berencana.
Selanjutnya,  ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.
Ketiga, bayi mendapat imunisasi dasar lengkap.
Keempat, bayi mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif. Kelima, balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan. Keenam, penderita tiberculosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar.
Ketujuh, penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur. Kedelapan, penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan. Kesembilan, anggota tidak ada yang merokok.
Kesepuluh, keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional. Kesebelas, keluarga memupunyai akses sarana air bersih, dan kedua belas, keluarga menggunakan jamban sehat
Sedangkan indikator yang ditambahkan oleh Kota Pontianak satu diantaranya, keluarga bebas jentik, cuci tangan pakai sabun, sikat gigi dengan benar, pemeriksaan kehamilan, dan pengobatan diabetes.
Ia juga menjabarkan teknis lapangan mengenai hal tersebut dimana setiap keluarga akan didatangi petugas yang sudah terlatih, berasal dari perguruan tinggi dan lulusan perguruan tinggi bidang kesehatan.
“Kita akan menanyai mengenai indikator keluarga sehat tersebut dan memberikan penyuluhan dan motovasi. Misalnya kalah ia ada bayi apakah setiap bulan selalu ditimbang dan sudahkah diberi imunisasi. Kemudian data yang ada akan dievaluasi,” ucapnya.
Sedangkan untuk tenaga yang akan diturunkan Handanu, sebut setiap Puskesmas minimal ada 10 tenaga survey tersebut.
Saat ini dikatakannya sebetulnya indikator yang ada untuk Kota Pontianak sudah diatas rata-rata dan memang harus terus ditingkatkan lagi.
“Ada beberapa yang harus didorong lagi, seperti keluarga bebas jentik, kebiasan merokok,” pungkas Handanu.

 Sumber : http://kesmas-id.com/

Menkes Komitmen Lakukan Reformasi Kesehatan, Implementasinya Dengan Program Germas


Menteri Kesehatan Nila F Moeloek berkomitmen melakukan reformasi kesehatan untuk menjamin seluruh masyarakat mendapatkan hak yang sama dalam pelayanan kesehatan. Implementasinya dengan program Indonesia Sehat dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
“Organisasi kesehatan dunia WHO gunakan istilah reformasi kesehatan. Di Indonesia dengan Indonesia Sehat. Guna mencapai terwujudnya masyarakat sehat, mandiri, dan berkeadilan. Program pertama Health Coverage supaya masyarakat yang menderita miskin tak makin miskin dengan Jaminan Kesehatan Nasional,” jelasnya dalam Seminar dan Lokakarya Kesehatan di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (20/4).
Nila menyebutkan sejumlah masalah kesehatan di Indonesia terdiri dari gabungan masalah Angka Kematian Ibu (AKI), anak kurang gizi, angka penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC dan malaria yang tak terkendali. Belum lagi dalam satu dekade terakhir makin berat terjadinya penyakit tak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gagal ginjal.
“Satu dekade ini makin berat penyakit tak menular yang menyerang semua kalangan. Strata ekonomi paling rendah punya prevalensi paling banyak. Ini paling banyak habiskan biaya APBN sebesar 30 persen di rumah sakit,” papar Nila.
Perubahan promosi kesehatan dilakukan dengan penyediaan air bersih, rumah layak huni, batasi konsumsi lemak, garam, dan gula serta menekan jumlah perokok. Kampanye Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga terus dilakukan. “Reformasi bidang kepemimpinan dan tata kelola. Keharmonisan antara pemerintah pusat dan daerah,” tegasnya.
Nila menambahkan tindakan pencegahan penyakit diperlukan dengan dibagi menjadi tiga strata layanan kesehatan yaitu primer, sekunder, dan tersier. Masyarakat diminta untuk datang ke dokter layanan primer terlebih dahulu di fasilitas kesehatan pertama seperti klinik dan puskesmas.
“Layanan primer yaitu kontak pertama pasien dalam rangka pencegahan penyakit. Sekunder yaitu layanan spesialistik dan tersier layanan subspesialistik. Sekunder dan tersier dilakukan di rumah sakit. Sehingga sistem rujukan berjenjang ini bisa efektif dilakukan,” tutupnya.
Sumber : http://kesmas-id.com/

Pelatihan Jabatan Fungsional Tertentu Rumpun Kesehatan Di BAPELKES


Analis Diklat at Bapelkes DIY
Di dalam UU No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara pada pasal 70, Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, Pengembangan kompetensi tersebut antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, seminar, kursus, dan penataran, oleh sebab itu pelatihan bagi ASN menjadi penting dan strategis guna mewujudkan aparatur yang benar-benar mampu menggerakkan roda system pelayanan pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Sebagai institusi pelatihan yang telah terakreditasi penuh dari Pusat Pelatihan SDM Kesehatan Badan PPSDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan DIY adalah satu-satunya institusi penyelenggara pelatihan kesehatan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sesuai dengan tugas dan fungsinya maka pelatihan kesehatan diselenggarakan oleh Bapelkes DIY dan khususnya Pelatihan Jabatan Fungsional Tertentu rumpun kesehatan di wilayah DIY diselenggarakan wajib di Bapelkes DIY berdasar Permenkes RI Nomor 78 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional Kesehatan.
Jabatan Fungsional Tertentu (JFT) adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada kehalian/ dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Dalam rangka mencapai tujuan nasional, dibutuhkan adanya Pegawai Negeri Sipil dengan mutu profesionalisme yang memadai, berdayaguna dan berhasilguna di dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. Pegawai Negeri Sipil perlu dibina dengan sebaik-baiknya atas dasar system karier dan prestasi kerja.

Jabatan fungsional pada hakekatnya adalah jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, namun sangat diperlukan dalam tugas-tugas pokok dalam organisasi Pemerintah. Jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil terdiri atas jabatan fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan, kenaikan pangkatnya disyaratkan dengan angka kredit.
Jabatan fungsional keahlian adalah kedudukan yang menunjukkan tugas yang dilandasi oleh pengetahuan, metodologi dan teknis analisis yang didasarkan atas disiplin ilmu yang bersangkutan dan/ atau berdasarkan sertifikasi yang setara dengan keahlian dan ditetapkan berdasarkan akreditasi tertentu.
Sedangkan jabatan fungsional ketrampilan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas yang mempergunakan prosedur dan teknik kerja tertentu serta dilandasi kewenangan penanganan berdasarkan sertifikasi yang ditentukan.
Jabatan fungsional dan angka kredit jabatan fungsional ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur Negara dengan memperhatikan usul dari pimpinan instansi pemerintahan yang bersangkutan, yang selanjutnya bertindak sebagai Pembina jabatan fungsional.
Secara umum jabatan fungsional dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI nomor 16 tahun 1994. Peraturan tersebut menegaskan tugas seorang pejabat fungsional didasarkan pada keahlian atau keterampilan tertentu dan bersifat mandiri.
Salah satu diantara sekian banyak jabatan fungsional yang ada adalah jabatan fungsional kesehatan. Jabatan fungsional kesehatan merupakan suatu bentuk pengakuan dari pemerintah atas kemampuan orang yang bersangkutan secara intelektual dan emosional. Sedangkan kemandirian merupakan salah satu ciri dari dimensi kematangan seseorang yang dapat dilihat dari perubahan yang tadinya penuh ketergantungan menjadi mandiri.
Dalam mencapai dimensi kematangan seseorang untuk bekerja pada suatu institusi, perlu ditunjang dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sehingga seorang JFT lebih meningkatkan diri dalam bekerja, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan slogan Kabinet Presiden Jokowi yaitu Kerja, Kerja dan Kerja.

Jabatan fungsional kesehatan akan memberikan peluang untuk berkiprah lebih baik di bidang kesehatan. Karir seorang pejabat fungsional sangat ditentukan oleh kinerjanya sendiri dan memungkinkan untuk memburu kenaikan pangkat yang lebih cepat pada setiap dua tahun. Lebih menguntungkan disbanding jabatan structural dengan formasi terbatas.
Pelatihan adalah proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kinerja, profesionalisme dan atau menunjang pengembangan karier tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Keberadaan jabatan fungsional dalam organisasi memiliki posisi yang sangat vital. Perubahan lingkungan organisasi yang begitu cepat menuntut setiap pejabat fungsionel melaksanakan tugas secara profesional sesuai kompetensi yang dimiliki. Pengembangan jabatan fungsional berbasis kompetensi dilakukan agar setiap pejabat fungsional meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tujuan dan sasaran oragnisasi dengan standar kinerja yang telah ditetapkan. Kompetensi menyangkut kewenangan setiap individu untuk melakukan tugas atau mengambil keputusan sesuai dengan perannya dalam organisasi yang relevan dengan pengetahuan, kehalian, dan kemampuan yang dimiliki serta menjunjung tinggi etika profesi.
Jenis-jenis Jabatan Fungsional Tertentu Rumpun Kesehatan
Terdapat 28 jenis jabatan fungsional rumpun kesehatan di bawah pembinaan teknis Kementerian Kesehatan, dan bersama-sama dengan Kemeterian PAN RB terkait dengan regulasi dan ketentuan secara administratifnya, terkait dengan penilaian angka kredit dan persyaratan lainnya.
Adapun ke 28 jenis jabatan fungsional tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Administrator kesehatan
2.       Apoteker
3.       Asisten apoteker
4.       Bidan
5.       Dokter
6.       Dokter gigi
7.       Epidemiolog kesehatan
8.       Entomology kesehatan
9.       Fisioterapis
10.   Nutrisionis
11.   Okupasi terapis
12.   Ortosis prosthesis
13.   Penyuluh kesehatan masyarakat
14.   Perawat
15.   Perawat gigi
16.   Perekam medis
17.   Pranata lab. Kes
18.   Radiographer
19.   Refraksionis optisien
20.   Sanitarian
21.   Teknik elektromedis
22.   Terapis wicara
23.   Teknisi gigi
24.   Teknik transfusi darah
25.   Fisikawan medis
26.   Psikolog klinis
27.   Dokter pendidik klinis
28.   Pembimbing kesehatan kerja

Pelaksanaan
Pelaksanaan pelatihan bagi jabatan fungsional tertentu kesehatan terdiri dari pelatihan pengangkatan pertama, pelatihan dasar dan pelatihan berjenjang serta pelatihan yang mendukung bagi jabatan fungsional tersebut. Pelaksanaan pelatihan diselenggarakan oleh dan di Bapelkes.
Pelatihan jabatan fungsional pengangkatan pertama adalah prasyarat bagi PNS/ASN untuk diangkat dalam jabatan fungsional kesehatan tertentu. Pelatihan dasar merupakan prasyarat untuk tetap dapat menduduki jabatn fungsional kesehatan tertentu dan pelatihan berjenjang juga merupakan prasyarat bagi JFT untuk naik ke jenjang jabatan setingkat lebih tinggi atau dari terampil ke jenjang ahli. Sedangkan pelatihan yang mendukung jabatan fungsional tersebut adalah pelatihan teknis yang meliputi kategori pelatihan manajemen kesehatan, pelatihan upaya kesehatan, pelatihan penunjang fungsional dan pelatihan teknis profesi. Di dalam pelatihan ini sertifikat pelatihan sesuai dengan ketentuan dan kepadanya diberikan nilaui atas jam pelajaran yang telah diikuti dalam pelatihan tersebut yang dapat dimasukkan dalam usulan penilaian angka kredit yang masuk dalam kelompok penilaian utama.
Bapelkes DIY telah melatih para calon dan peserta yang telah menduduki jabatan fungsional tertentu rumpun kesehatan baik pengangkatan pertama, pelatihan dasar maupun pelatihan berjenjang bagi aparatur di seluruh wilayah DIY, dan akan membuka pelatihan bagi calon atau pejabat fungsional untuk seluruh PNS yang berminat secara mandiri.

 Sumber : http://kesmas-id.com/

Mengapa Bayi Usia 0-6 Bulan Tidak Perlu Diberikan Air Putih


Mengapa Bayi Usia 0-6 Tidak Perlu Diberikan Air Putih
Air putih memang sangat bermanfaat agar kita tetap sehat dan bugar. Tetapi, hal ini tidak berlaku untuk si kecil, terutama ketika ia masih di usia 0 sampai 6 bulan. Sayangnya, masih banyak orang tua yang memberikan air putih kepada bayinya tanpa mengetahui risiko yang ada. Alasan yang paling sering didengar adalah agar bayi tidak haus setelah minum ASI.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa air putih jangan diberikan ke bayi yang masih berusia kurang dari 6 bulan, menurut dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC yang seorang dokter spesialis anak dan ketua Sentra Laktasi Indonesia.
·Sistem tubuh si kecil di usia ini masih belum matang, dan yang dikhawatirkan adalah air yang tidak higenis. Bayi akan berisiko terkena paparan bakteri dan bahan mineral seperti fluoride yang dapat mengganggu perkembangannya.

·Ginjal si kecil yang belum tumbuh sempurna akan meningkatkan pengeluaran sodium dan natritum dari tubuhnya. Jika ini terus terjadi, si kecil akan mengalami dehidrasi alias kehilangan elektrolit di dalam tubunya. Elektrolit seperti natrium atau sodium sebenarnya menjaga sistem metabolisme si kecil. Jika ia kekurangan sodium, ada risiko kejang karena sodium sangat mempengaruhi aktivitas otaknya.

·Ginjal adalah organ tubuh yang mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh. Namun, walaupun ginjal sudah terbentuk, fungsinya belum sempurna seperti orang dewasa. Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkanm. Misalnya, kalau banyak minum, ginjalakan mengatur sehingga berkemihnya sering. Pada saat ada hawa dingin, kita akan lebih sering buang air kecil.

·Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau “keracunan” air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.

Oleh karena itu, sumber air minum untuk si kecil hanyalah ASI sampai ia berusia 6 bulan karena semua kebutuhan gizi untuk perkembangan optimal sudah ada di dalamnya.

Sumber: Nakita.id